Megatruh: Apa-apaan ini Kin?
Kinanthi: Apanya yang apa-apaan Meg?
M: Puisimu ini?
K: Kamu baca puisiku? Wow, horee..., aku punya tambahan penggemar
M: Puisinya bagus...
K: ...dari nol penggemar menjadi satu pengemar...
M: ...tapi tak logis.
K: ...dan semua penggemarku, yang cuma satu itu, bilang bagus.
M: Yeah, tapi gak logis.
K: Gakpapa, yang penting ada bagus-nya.
M: Masak disini kamu tulis Daun jatuh tak membenci angin. Lha jelas daun yang jatuh gara-gara angin itu kan daun tua yang kering, tentu saja pasrah saja dia tertiup angin.
K: Puisi kan gak perlu logis to Meg.
M: Ini bukan puisi penambah semangat.
K: Memang bukan. Puisiku yang ini tentang pasrah setelah berusaha.
M: Lha kalau gambarannya daun jatuh karena angin, berarti pasrah sampai tua dong.
K: Eh, iya juga.
M: Harusnya bikin yang menambah semangat atau tahan banting atau bertahan semacam Daun yang kuat takkan jatuh sekalipun badai.
K: Wah, trims Meg, ide bagus buat bahan puisi baruku
M: ...
No comments:
Post a Comment